
Pendidikan, dari asal kata didik yang kalau saya mengartikan berarti pemberitahuan atau pengajaran, yaitu pemberitahuan atau pengajaran dari hal yang belum dipahami dan hal yang belum diketahui oleh peserta didik, sehingga bisa diketahui dan bisa dipahami oleh peserta didik itu sendiri. Pendidikan sendiri pada umumnya disebut Sekolah. Sekolah kalau saya artikan maknanya yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang pada lingkungan pendidikan artinya yang melakukan kegiatan dilingkungan pendidikan berarti bukan hanya siswa saja tetapi termasuk seluruh pendidik dan tenaga kependidikan.
Siapa Pendidik, Pendidik adalah orang yang menyampaikan informasi atau pemberitahuan atau pengajaran kepada peserta didik (siswa/siswi). Kenapa saya tidak menyebutnya Guru karena bagi saya seorang GURU adalah teladan yang harus ditiru perkataan, tingkah laku, keseharian, perbuatan, pakaian, pergaulan, ilmu dan semua yang ada pada dirinya. Sedangkan pendidik saat ini benar-benar memprihatinkan, sudah bukan rahasia lagi kalau kelakuan pendidik saat ini banyak yang tidak memenuhi syarat untuk disebut GURU. Sehingga pada saat ini seorang pendidik hanya bisa disebut seorang penyampai informasi dan bukan seorang GURU.
Siapa tenaga kependidikan, tenaga kependidikan adalah orang yang membantu terselenggaranya proses penyampaian informasi atau pengajaran, siapa mereka mereka adalah bagian administrasi/tata usaha dan tukang kebun. Memang keberadaan mereka kadang tidak disadari oleh masyarakat umum bila mereka juga berperan dalam proses pendidikan.
Siapa Siswa/Siswi, Siswa/siswi adalah peserta didik yang membutuhkan informasi yang belum diketahuinya.
Ya, Kalau bicara soal pendidikan di Magetan atau bahkan diseluruh Nusantara, ada sebuah pendidikan yang unik kenapa saya sebut unik, karena keberadaannya tidak begitu diperhitungkan, namun memiliki peran dasar dalam pembentukan pribadi yang berbudi, siapa itu yaitu TPA yang artinya Taman Pendidikan Al Qur’an bukan Tempat Pembuangan Ahkir loooo…! Kebanyakan TPA ini diselenggarakan oleh mereka yang menghendaki berkembangnya mental keagamaan di daerahnya (daerah disini dibatasi sampai dengan sebuah dusun/desa) berkembang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa budaya luar yang materialis non agamis telah menyentuh relung jiwa negeri ini, sampai-sampai anak-anak desapun sudah semakin banyak yang menerapkan budaya gelap ini. Budaya seperti apa ? budaya tidak tahu malu yang mengumbar kemolekan kemesraan tanpa diikat tali pernikahan yang sah, di tempat-tempat umum. Bahkan terlihat bahwa mereka merasa bangga melakukan dosa itu, tanpa merasa risih sama sekali, menyedihkan !
Dan salah satu cara untuk membendung budaya hitam atau negatif ini adalah dengan pendidikan agama sejak dini pada diri penerus bangsa ini, dengan diajarkan pendidikan agama sejak dini saja masih banyak yang out culture of religion bagaimana kalau tidak sama sekali. Ibarat kita menanam 1000 pohon kebaikan pada diri seseorang namun yang bisa tumbuh besar dan bertahan hanya satu pohon saja bahkan malah ngak ada yang tumbuh sama sekali.
Untuk itu patutlah dan sepantasnyalah kita berikan apresiasi yang luar biasa kepada mereka yang mau mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk memperjuangkan perbaikan mental agamis kepada penerus negeri ini melalui Tamana Pendidikan Al Qur’an.


